Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan

SCRAPER

2 comments




         Scraper adalah alat berat yang berfungsi untuk mengeruk, mengangkut dan menabur tanah hasil pengerukan secara berlapis. Scraper dapat digunakan sebagai alat pengangkutan untuk jarak yang relative jauh (2000 m) pada tanah datar dengan pengerak roda ban. Pemilihan scraper untuk pekerjaan ini tergantung pada :
1).  Karakteristik material yang dioperasikan
2).  Panjang jarak tempuh
3).  Kondisi jalan
4).  Alat Bantu yang diperlukan
Scraper ukuran besar umumnya mempunyai dua mesin untuk menggerakkan roda depan dan belakang. Besar mesin dapat mencapai 550 hp per buahnya.
Selain bermesin sendiri, dikenal pula pula scaper tanpa mesin. Scraper jenis ini perlu ditarik alat lain untuk pengoperasiannya. Hanya sedikit yang masih menggunakan alat jenis ini.
Dua scraper dapat dioperasikan bersama dengan formasi push-pull. Dalam formasi ini kedua scraper digandengkan hingga dapat saling menarik-mendorong untuk mengoptimalkan kinerja.
A.      JENIS-JENIS SCRAPER
Ada 2 macam Scraper yaitu :
·         Towed Scraper, dalam operasinya ditarik buldozer karena memang tidak bermesin, tenaganya diambil dari buldozer. Towed Scrapper  jarak angkut tidak lebih dari 500 meter. Towed scraper umumnya ditarik crawler traktor dengan kekuatan mesin 300 hp atau lebih. Scraper jenis ini dapat menampung material 8 – 30 m3.
·         Motor Scraper, dalam pengoperasiannya ada yang menggunakan mesin tunggal / Front dan ada yang menggunakan mesin ganda / Front and Rear. Scraper yang bermesin tunggal harus dibantu pendorong (buldozer), sedangkan yang bermesin ganda tidak harus dibantu pendorong buldozer. Jarak angkut motor scraper antara  (500 – 2000 meter), sangat effektif material/tanah yang diambil tidak terlalu keras dan medan operasi memotong/meratakan bukit yang cukup luas
Gambar Scraper bermesin ganda
B.       PENGOPERASIAN SCRAPER

Scraper terdiri dari beberapa bagian antara lain bowl, apron, dan tail gate. Bowl adalah bak penampung muatan terletak diantara ban belakang. Bagian depan bowl dapat digerakan kebawah untuk operasi pengerukan dan pembongkaran muatan. Pada bagian sisi depan bowl berkisar antara 3 sampai 38 m3
Apron adalah dinding bowl bagian depan yang dapat diangkat pada saat pengerukan dan pembongkaran. Apron dapat menutup kembali pada saat pengangkutan material. Beberapa model scraper memiliki apron yang dapat mengangkut material sepertiga dari material di bowl.
Tail gate atau ejector merupakan dinding belakang bowl. Pada saat pemuatan dan pengangkutan material dinding ini tidak bergerak. Namun pada saat pembongkaran muatan ejector bergerak maju untuk mendorong material keluar dari bowl.
Pengoperasian dengan alat bantu dilakukan dengan dua cara :
  •   Push-loaded. Alat Bantu dipakai hanya pada saat pengerukan dan pengisian
  •  Push pull. Dua buah scraper dioperasikan dengan cara ini keduanya saling membantu didalam pengerukan. Scraper yang dibelakang mendorong scraper didepannya pada saat pengerukan dan scraper didepannya menarik scraper yang dibelakang pada saat pengerukan.

C.      KEMAMPUAN POWER SCRAPER
Kemampuan Power Scrapper:
  • dapat menggali dan mengisi muatannya sendiri 
  • mengangkut ke tempat yang telah ditentukan 
  • menyebar dan meratakan muatan itu.
1.        Menggali dan Mengisi
Untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal harus dilakukan dengan cara :
a.            Pusher Loading
Power Scrapper sebenarnya dapat mengisi muatan tanpa bantuan alat lain, tetapi memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pengisian muatan sebaiknya dibantu oleh Buldoser.
Dalam Pusher Loading perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
  • Pekerjaan harus dilakukan minimum dengan kecepatan 10 ft/ detik, agar laju Power Scrapper tak terhambat oleh tatanan material yang sedang digali.
  • Harus dilakukan sinkronisasi kecepatan antara Power Scrapper dan Buldoser yang digunakan. Diusahakan tiap 1,5 – 2 menit datang Power Scrapper yang sudah siap untuk didorong, dengan demikian Scrapper tak sampai menunggu untuk didorong Buldoser.
  • Sebaiknya memilih operator Buldoser yang telah terlatih dan berpengalaman  
   b.            Down Hill Loading
Diuasahakan agar pola kerja Power Scrapper selalu menuju ke bagian yang lebih rendah, agar gaya berat alat akan membantu Power Scrapper dalam mengisi muatannya sendiri, sehingga waktu pengisian menjadi lebih singkat.
c.            Straddle Loading
Straddle Loading adalah suatu pola pemuatan/ pengisian Power Scrapper di mana tiap dua kali pengisian, bagian tengahnya ditinggalkan kurang lebih selebar 5 ft. Bagian yang ditinggalkan itu akan dipotong/ digali pada perjalanan pengisian yang berikutnya

Gambar Straddle Loading
2.        Mengangkut
Hal yang perlu diperhatikan dalam mengangkut material menggunakan Power Scrapper adalah kecepatan geraknya; Power Scrapper yang menggunakan roda karet, sangat disukai, karena memiliki kecepatan yang tinggi. Cara untuk memperlancarpengangkutan menggunakan Power  Scrapper:
  • Power Scrapper yang masih baik dan memiliki kecepatan tinggi jangan disatukan pada jalan yang sama dengan Power Scrapper yang mempunyak kecepatan rendah, sebab akan mengganggu; kecuali jika jalan cukup lebar sehingga Power Scrapper dapat saling menyalib.
  • Diusahakan untuk menghindari belokan tajam atau yang melingkarterlalu jauh, diusahakan waktu membelok tak lebih dari 15 detik.
  • Supaya Power Scrapper dapat bergerak dengan kecepatan yang maksimum maka jalan harus terpelihara baik.
  • Pengangkutan ke dua arah sangat menguntungkan, sebab mengurangi waktu untuk membelok
3.        Menyebarkan Material
Ada beberapa cara yang baik untuk mengosongkan, lalu menimbun dan menyebarkan material muatan menggunakan Power Scrapper.
Ø  Apron (pinggiran) dibuka, lalu fail gate (lubang untuk keluar masuk material) didorong ke depan dengan hati-hati agar material keluar dengan teratur. Pisau (Cutting Edge) jangan diturunkan terlalu rendah supaya material tak terhalang. Kalau material belum turun/ keluar karena apron belum dibuka, fail gate jangan didorong ke depan, sebab apron bisa rusak akibat tekanan yang terjadi.
Ø  Jika material sangat lengket (misalonya material yang diangkut adalah lempung) apron perlu dibuka/ tutup beberapa kali agar material mau keluar dari bowl, lalu pisau diturunkan sampai ketebalan yang dikehendaki.
Ø  Penyebaran akan merata jika kecepatan Power Scrapper disesuaikan dengan kecepatan keluarnya material dari dalam bowl.
Ø  Material yang mudah mengalir keluar (misalnya pasir) dapat disebarkan dengan kecepatan tinggi, dan biasanya mudah diperoleh sebaran material berupa lapisan-lapisan yang tipis serta merata.
4.        Cara Menggali Tanah Penutup yang Tipis Menggunakan Scrapper
Contoh pemakaian untuk menggali tanah penutup yang terlalu curam, Power Scrapper harus dibantu dengan Buldoser; jika kecuramannya telah dikurangi/ sudah dilandaikan menggunakan Buldoser, maka barulah digali menggunakan Power Scrapper, dan tanah diangkut ke tempat lain.
Penggalian Tanah Penutup yang tipis

5.        Cara Menggali Tanah Penutup yang Tebal dengan Scrapper
Bila lapisan penutup tanah sangt tebal, maka cara pengalian tidak diarahkan ke sisi tebing yang curam, tetapi kurang lebih sejajar dengan tebing tersebut
Cara menggali penutup yang tebal

D.      PRODUKTIVITAS SCRAPER
Produktivitas sraper tergantung pada jenis material, tenaga untuk mengangkut, kondisi jalan, kecepatan lat, efisiensi alat. Volume material yang akan dipindahkan akan mempengaruhi kapasitas scraper yang dipilih. Sedangkan jumlah pengangkutan per jam tergantung pada waktu siklus scraper.
Waktu siklus merupan penjumlahan dari waktu muat (LT), waktu pengangkutan (HT), waktu pembongkaran muatan (DT), waktu kembali (RT), dan waktu antri (ST). selain itu ada waktu berputar atau turning time (TT) dan waktu percepatan, perlambatan dan pengereman atau accelerating, decelerating and braking time (ADBT). Karena LT, DT, ST, TT dan ADBT konsisten maka waktu-waktu tersebut dikategorikan sebagai waktu tetap (FT), sehingga rumus yang dipakai adalah
FT = LT + DT + ST + TT + ADBT
E.       PUSHER (ALAT PENDORONG)
Pemakaian alat Bantu atau pusher pada scraper didalam operasinya dapat menaikan produktivitas alat. Waktu siklus pusher adalah waktu yang dibutuhkan untuk memuat material kedalam scraper ditambah waktu yang dibutuhkan pusher untuk bergerak dari satu scraper ke scraper yang lain. Waktu siklus (dalam menit) dicari dengan menggunakan rumus :
CTp = 140% x LTs + 0,25
F.       PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SCRAPER
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi scraper didalam operasinya antara lain :
  • Pertama dengan menggemburkan tanah yang akan dimuat ke dalam bowl. Dengan demikian waktu muat akan berkurang. Kedalaman penetrasi dari riper harus lebih besar dari kedalaman penetrasi cutting edge. 
  • Dengan membasahi tanah yang akan diangkut. Dilakukan debelum dimuat kedalam bowl 
  • Memuat material pada kondisi menurun juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi scraper.

KEKAR (JOINT)

3 comments



KEKAR
A.      Defenisi
Kekar adalah struktur rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relative tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya. Kekar dapat terjadi pada semua jenis batuan, dengan ukuran yang hanya beberapa millimeter (kekar mikro) hingga ratusan kilometer ( kekar mayor ) sedangkan yang berukuran beberapa meter disebut dengan kekar minor. Kekar dapat terjadi akibat proses tektonik maupun perlapukan juga perubahan temperature yang signifikan. Kekar merupakan jenis struktur batuan dalam bentuk bidang pecah. Karena sifat bidang ini memisahkan batuan menjadi bagian-bagian terpisah maka struktur kekar merupakan jalan atau rongga kesarangan batuan untuk dilalui cairan dari luar beserta materi lain seperti air, gas dan unsur-unsur lain yang menyertainya. 


B.      Jenis-jenis Kekar
Kekar di bedakan menjadi 3 macam yaitu kekar pengerutan, kekar lembar dan kekar akibat tektonik.
  • Kekar lembar (sheet joint ) yaitu sekumpulan kekar yang kira-kira sejajar dengan permukaan tanah, terutama pada batuan beku. Terbentuknya kekar ini akibat penghilangan beban batuan yang tererosi. Penghilangan beban pada kekar ini terjadi akibat :
1) Batuan beku belum benar-benar membeku secara menyeluruh
2) Tiba-tiba diatasnya terjadi erosi yang dipercepat
3) Sering terjadi pada sebuah intrusi konkordan (sill) dangkal


                     Sheet joint di sekitar Half Dome di California                    


                    Sheet Joint granit pada Enchanted Rock di Texas, AS                    

  • Kekar pengerutan (srinkage joint) yaitu kekar yang disebabkan karena gaya pengerutan yang timbul karena pendinginan (pada batuan beku = kekar tiang / kolom) atau pengeringan (pada batuan sedimen) biasanya berbentuk polygonal yang memanjang. Kekar kolom yang terjadi pada batuan beku, pada umumnya terjadi akibat adanya intrusi dangkal (intrusi batuan yang letaknya relative dekat dengan permukaan bumi) bentuknya adalah seperti pilar-pilar berbentuk segi empat atau segi 6
·  
  • Kekar akibat tektonik, berdasarkan genesanya kekar tektonik dibagi menjadi 2 macam yaitu kekar gerus dan kekar tarik

C.      Klasifikasi Kekar
Klasifikasi kekar ada beberapa macam , tergantung dasar klasifikasi yang digunakan , diantaranya :
·         Berdasarkan bentuknya
·         Berdasarkan cara terjadinya ( genesanya )
·         Berdasarkan kerapatannya
·         Berdasarkan kecepatannya
  • Klasifikasi kekar berdasarkan bentuknya
a.      Kekar sistematik yaitu keakar dalam bentuk berpasangan arahnya sejajar satu dengan yang lainnya .
b.      Kekar non sistematik yaitu kekar yang tidak teratur biasanya melengkung dapat saling bertemu atau bersilangan di antara kekar lainnya atau tidak memotong kekar lainnya dan berakhir pada bidang perlapisan
  •   Klasifikasi kekar berdasarkan ganesanya
a.       Kekar Gerus (Shear Joint), yaitu kekar yang terjadi akibat stress yang cenderung mengelincir bidang satu sama lainnya yang berdekatan. 
      Ciri-ciri dilapangan :

·           Biasanya bidangnya licin.
·           Memotong seluruh batuan.
·           Memotong komponen batuan.
·           Biasanya ada gores garis.
·           Adanya joint set berpola belah ketupat.

b.      Kekar Tarikan (Tensional Joint), yaitu kekar yang terbentuk dengan arah tegak lurus dari gaya yang cenderung untuk memindahkan batuan (gaya tension). Hal ini terjadi akibat dari stress yang cenderung untuk membelah dengan cara menekannya pada arah yang berlawanan, dan akhirnya kedua dindingnya akan saling menjauhi.


Ciri-ciri dilapangan :
·         Bidang kekar tidak rata.
·         Selalu terbuka.
·         Polanya sering tidak teratur, kalaupun teratur biasanya akan berpola kotak-kotak.
·         Karena terbuka, maka dapat terisi mineral yangkemudian disebut vein.

Kekar tarikan dapat dibedakan atas:
a.       Tension Fracture, yaitu kekar tarik yang bidang rekahannya searah dengan tegasan.
b.      Release Fracture, yaitu kekar tarik yang terbentuk akibat hilangnya atau pengurangan tekanan, orientasinya tegak lurus terhadap gaya utama. Struktur ini biasanya disebut STYLOLITE.

  • Klasifikasi kekar berdasarkan genesa dan keaktifan gaya yang membentuknya
a.       Kekar orde pertama yaitu sebagai hasil langsung dari gaya pembentuk kekar .Umumnya mempunyai bentuk dan pola yang teratur dan ukurannya relative besar .
b.      Kekar orde kedua yaitu kekar sebagai hasil pengaturan kembali atau pengaruh gaya balik / lanjutan untuk mencapai kesetimbangan massa batuan .

  •  Klasifikasi kekar berdasarkan bentuknya
a.         Kekar sistematik yaitu keakar dalam bentuk berpasangan arahnya sejajar satu dengan yang lainnya .
b.         Kekar non sistematik yaitu kekar yang tidak teratur biasanya melengkung dapat saling bertemu atau bersilangan di antara kekar lainnya atau tidak memotong kekar lainnya dan berakhir pada bidang perlapisan

Metode Prospeksi

2 comments



Metode yang biasa dipakai dalam penyelidikan umum atau prospeksi adalah :

A.      PENELUSURAN TEBING-TEBING DI TEPI SUNGAI DAN LERENG-LERENG BUKIT
Kegiatan ini berusaha untuk menemukan singkapan (outcrop) yang bisa memberi petunjuk keberadaan suatu endapan bahan galian. Bila ditemukan singkapan yang menarik dan menunjukkan tanda-tanda adanya mineralisasi, maka letak dan kedudukan itu diukur dan dipetakan. Juga diambil contoh batuannya (rock samples) secara sistematis untuk diselidiki di laboratorium agar dapat diketahui data apa yang “tersimpan” di dalam contoh batuan itu.

B.       PENELUSURAN JEJAK SERPIHAN MINERAL (TRACING FLOAT)
Yaitu metode untuk menemukan letak sumber serpihan mineral (mineral cuts = float) yang umumnya berupa urat bijih (vein) endapan primer di tempat-tempat yang elevasinya tinggi. Caranya adalah dengan mencari serpihan atau potongan mineral-mineral berharga (emas, intan, kasiterit, dll) yang keras, tidak mudah larut dalam asam maupun basa lemah dan memiliki berat jenis yang tinggi dimulai dari kelokan di hilir sungai.

Pada kelokan sungai sebelah dalam (lihat Gambar 2) diambil beberapa genggam endapan pasir lalu dicuci dengan dulang atau lenggang (pan/batea/horn ; lihat Gambar 1). Bila dari dalam dulang itu ditemukan serpihan mineral berharga, maka pendulangan di kelokan sungai diteruskan ke hulu sungai (lihat titik-titik A1, A2 dan A3 pada Gambar 2) sampai serpihan mineral berharga itu tak ditemukan lagi.
Selanjutnya pencarian serpihan itu dilakukan ke kiri-kanan tepian sungai dengan cara mendulang tumpukan pasir yang ada di tepian sungai tersebut. Pekerjaan ini diteruskan ke lereng-lereng bukit disertai dengan penggalian sumur uji dan parit uji sampai serpihan itu menghilang dan sumber serpihan yang berupa endapan primer itu ditemukan. Tetapi mungkin juga sumber serpihan mineral berharga itu tidak ditemukan.
 Gambar1. Bentuk-bentuk dulang atau lenggang
  Gambar2. Serpihan mineral pada kelokan sungai

C.       PENYELIDIKAN DENGAN SUMUR UJI (TEST PIT)

Untuk memperoleh bukti mengenai keberadaan suatu endapan bahan galian di bawah tanah dan mengambil contoh batuan (rock samples)-nya biasanya digali sumur uji (test pit) dengan mempergunakan peralatan sederhana seperti cangkul, linggis, sekop, pengki, dsb.
Bentuk penampang sumur uji bisa empat persegi panjang, bujur sangkar, bulat atau bulat telur (ellip) yang kurang sempurna (lihat Gambar 3). Tetapi bentuk penampang yang paling sering dibuat adalah empat persegi panjang; ukurannya berkisar antara 75 x 100 m sampai 150 x 200 m. Sedangkan kedalamannya tergantung dari kedalaman endapan bahan galiannya atau batuan dasar (bedrock)nya dan kemantapan (kestabilan) dinding sumur uji. Bila tanpa penyangga kedalaman sumur uji itu berkisar antara 4 - 5 m.
Agar dapat diperoleh gambaran yang representatif mengenai bentuk dan letak endapan bahan secara garis besar, maka digali beberapa sumur uji dengan pola yang teratur seperti empat persegi panjang atau bujur sangkar (pada sudut-sudut pola tersebut digali sumur uji) dengan jarak-jarak yang teratur pula (100 - 500 m), kecuali bila keadaan lapangan atau topografinya tidak memungkinkan.
Dengan ukuran, kedalaman dan jarak sumur uji yang terbatas tersebut, maka volume tanah yang digali juga terbatas dan luas wilayah yang rusak juga sempit.
 Gambar 3. Macam bentuk penampang sumur uji

D.      PENYELIDIKAN DENGAN PARIT UJI (TRENCH)
Pada dasarnya maksud dan tujuannya sama dengan penyelidikan yang mempergunakan sumur uji. Demikian pula cara penggaliannya. Yang berbeda adalah bentuknya ; parit uji digali memanjang di permukaan bumi dengan bentuk penampang trapesium (lihat Gambar 4) dan kedalamannya 2-3 m, sedang panjangnya tergantung dari lebar atau tebal singkapan endapan bahan galian yang sedang dicari dan jumlah (volume) contoh batuan (samples) yang ingin diperoleh. Berbeda dengan sumur uji, bila jumlah parit uji yang dibuat banyak dan daerahnya mudah dijangkau oleh peralatan mekanis, maka penggalian parit uji dapat dilakukan dengan dragline atau hydraulic excavator (back hoe).
 Gambar 4. Bentuk penampang parit uji

Untuk menemukan urat bijih yang tersembunyi di bawah material penutup sebaiknya digali dua atau lebih parit uji yang saling tegak lurus arahnya agar kemungkinan untuk menemukan urat bijih itu lebih besar. Bila kebetulan kedua parit uji itu dapat menemukan singkapan urat bijihnya, maka jurusnya (strike) dapat segera ditentukan. Selanjutnya untuk menentukan bentuk dan ukuran urat bijih yang lebih tepat dibuat parit-parit uji yang saling sejajar dan tegak lurus terhadap jurus urat bijihnya (lihat Gambar 5).
 Gambar 5. Arah penggalian parit uji

E.       METODE GEOFISIKA (GEOPHYSICAL PROSPECTING)
Metode geofisika dipakai sebagai alat untuk menemukan adanya perbedaan (anomali) yang disebabkan oleh adanya endapan bahan galian yang tersembunyi di bawah permukaan bumi. Pada umumnya endapan bahan galian yang tersembunyi di bawah permukaan bumi itu memiliki satu atau lebih sifat-sifat fisik yang berbeda dari sifat fisik batuan di sekelilingnya, sehingga perbedaannya itu dapat dicatat (diukur) dengan peralatan geofisika. Metode geofisika ini memang mahal dan hasilnya tidak selalu teliti dan meyakinkan, karena tergantung dari kepiawaian dalam melakukan interpretasi terhadap anomali dan data geologi yang diperoleh. Walaupun demikian metode ini bisa sangat membantu dalam mengarahkan kegiatan eksplorasi di kemudian hari

F.        METODE GEOKIMIA (GEOCHEMISTRY PROSPECTING)

Metode geokimia dipergunakan untuk merekam perubahan-perubahan komposisi kimia yang sangat kecil, yaitu dalam ukuran part per million (ppm), pada contoh air permukaan (air sungai), air tanah, lumpur yang mengendap di dasar sungai, tanah dan bagian-bagian dari tanaman (pepohonan) seperti pucuk daun, kulit pohon dan akar yang disebabkan karena di dekatnya ada endapan bahan galian atau endapan bijih (ore body). Pada dasarnya semua endapan bahan galian pada saat terbentuk akan “merembeskan” sebagian kecil unsur kimia atau logam yang dikandungnya ke lapisan batuan di sekelilingnya. ”Rembesan” unsur kimia atau logam inilah yang ditelusuri dengan metode geokimia. Oleh sebab itu prospeksi geokimia biasanya dilakukan di sepanjang aliran sungai dan daerah aliran sungai (DAS) serta di daratan.
Prospeksi geokimia hanya mampu membantu melengkapi data dan informasi untuk mengarahkan di daerah mana prospeksi geofisika harus dilakukan. Tetapi prospeksi geokimia sangat bermanfaat untuk penyelidikan di daerah yang bila diselidiki dengan geofisika tidak efektif, terutama untuk pengamatan awal di daerah terpencil yang luas. Setiap contoh air, tanah dan komponen tumbuh-tumbuhan yang diambil dengan teliti dan sistematis dari daerah yang sedang diteliti, kemudian harus dianalisis secara kimiawi dengan reagen yang khas dan hanya peka untuk unsur kimia atau logam tertentu (a.l. Cu, Pb, Zn, Ni dan Mo) walaupun kadar unsur kimia atau logam itu sangat rendah. Hasil analisis kimia khusus itu dipetakan untuk dipelajari adanya anomali geokimia yang antara lain disebut halos.
Prospeksi geokimia biasanya berlangsung tidak terlalu lama (0,5-1,0 tahun), sedangkan jumlah contoh (sample) yang diambil dari setiap tempat tak banyak (1-2 kg).

Sumber : Real Miners



Kecelakaan Tambang Mematikan

0 comments

Berikut ini beberapa kecelakaan tambang paling mematikan yang pernah terjadi di dunia :


1. China Benxihu Colliery
Tambang besi dan batubara ini berada di bawah kontrol Cina dan Jepang pada tahun 1905, tapi wilayah ini diserbu oleh orang Jepang dan menjadi tambang menggunakan tenaga kerja paksa Jepang. Pada tanggal 26 April 1942, ledakan debu batu bara membunuh sepertiga dari para pekerja yang bertugas pada saat itu, 1.549 mati. Upaya gila-gilaan untuk memotong ventilasi dan segel tambang untuk memadamkan api. Butuh waktu 10 hari untuk mengangkat jenazah dan mereka dikuburkan dalam sebuah kuburan massal. Tragedi terjadi di Cina lagi ketika 682 meninggal pada tanggal 9 Mei 1960, dalam ledakan tambang batu bara Laobaidong.

2. Bencana tambang Courrières
Sebuah ledakan tambang batubara terjadi di Utara Perancis pada tanggal 10 Maret 1906. Setidaknya dua pertiga dari penambang bekerja pada waktu itu tewas (1.099 meninggal) termasuk anak-anak. Banyak dari mereka yang selamat menderita luka bakar atau menderita sakit oleh gas. Satu kelompok 13 selamat tinggal selama 20 hari di bawah tanah; tiga orang yang selamat di bawah usia 18. Kecelakaan tambang memicu kemarahan masyarakat, pemicu ledakan masih tidak pernah di temukan. Ini tetap merupakan bencana tambang terburuk dalam sejarah Eropa.

3. Bencana tambang batubara Jepang
Pada 15 Desember 1914, ledakan gas di tambang batu bara Hojyo Mitsubishi di Kyushu, Jepang, menewaskan 687, ini menjadikan kecelakaan tambang paling parah di Jepang. Pada 9 November 1963, 458 penambang tewas dalam tambang batubara di Omuta Mitsui Miike, Jepang, 438 orang dari keracunan karbon monoksida. Ini, tambang batubara terbesar di negara ini, tidak berhenti beroperasi sampai 1997.

4. Bencana tambang batubara Wales
Bencana Senghenydd Colliery terjadi pada 14 Oktober 1913, selama periode puncak produksi batubara di Inggris. Penyebabnya kemungkinan besar ledakan debu batu bara metana yang dinyalakan. Korban tewas 439, sehingga kecelakaan tambang paling mematikan di Inggris. Ini adalah yg terburuk dari serentetan bencana tambang di Wales yang terjadi selama periode keselamatan tambang jelek 1850-1930. Pada tanggal 25 Juni 1894, 290 meninggal di Colliery Albion di Cilfynydd, Glamorgan, dalam ledakan gas. Pada 22 September 1934, 266 tewas dalam Bencana Gresford dekat Wrexham di North Wales. Dan pada 11 September 1878, 259 tewas di Prince of Wales Tambang, Abercarn, Monmouthshire, dalam sebuah ledakan.

5. Coalbrook, South Africa
Bencana tambang terbesar dalam sejarah Afrika Selatan juga salah satu yang paling mematikan di dunia. Pada 21 Januari 1960, longsor di bagian tambang terperangkap 437 penambang. Dari mereka korban, 417 menyerah pada keracunan metana. Setelah bencana, KP negara membeli peralatan penyelamatan pemboran yang sesuai. Ada teriakan setelah kecelakaan ketika dilaporkan bahwa beberapa penambang telah melarikan diri ke pintu masuk pertama, tapi terpaksa kembali ke tambang oleh supervisor.


...."Anytime, Anywhere, Anything, Always Safety FIRST".... 

Sumber : Real Miners